Penerapan Bioteknologi, Aspek Kehati-Hatian Menjadi Utama

Dari 28 negara tanaman hasil rekayasa genetic (PRG), sebanyak 20 negara adalah Negara berkembang dan delapan lainnya adalah Negara maju. Sekitar 60 persen populasi dunia, atau setara dengan 4 miliyar orang tinggal di 28 negara tersebut.

Bagaimana penerapan tanaman bioteknologi di Indonesia? Penerapan tanaman bioteknologi, tentu aspek kehati-hatian menjadi utama, jelas Menteri Pertanian Dr. Suswono, ketika memberikan keterangan pers, usai membuka seminar on Global Overview of Biotech/GM Crops 2012 : Current Status, Impact and Future Prospect, di Auditorium D, Kementerian Pertanian (Rabu, 13/03/2013).

International Service for the Acquisition of Agri-bioteck Application (ISAAA) melaporkan bahwa adanya peningkatan kesadaran dari Negara-negara berkembang mendanai manfaat penanaman tanaman has ail rekayasa genetika yang tidak hanya memberikan peningkatan hasil, penggunaan pestisida, peningkatan kualitas produk dan siklus tumbuh.

Ketika ditanya para wartawan, Menteri Pertanian Dr.Suswono mengatakan bahwa bioteknologi adalah sesuatu keniscayaan yang memang mau tidak mau harus kita okomodir atau kita adobsi, kenapa? Karena ke depan dengan jumlah penduduk yang semakin banyak, kebutuhan pangan makin meningkat, sementara lahan semakin sempit,perubahan iklim juga nyata, tegasnya.

Oleh karena itu tentu saja biotek sesuatu yang harus kita lkukan, salah satu adlah dengan Genetik Modified Organism (GMO), tentunya sesuai peraturan pemerintah dalam kaitan penerapannya yaitu aspek kehati-hatian menjadi utama, sehingga tidak menimbulkan ekses, baik dari sisi keamanan pangan, keamanan pakan maupun dari sisi lingkunagn. Hal inilah yang menjadi patokan.

Oleh Karena itu kita terus akan mengembangkan tetapi dengan aspek kehati-hatian sebagai prioritas utama.

Sumber :  http://www.litbang.pertanian.go.id/

Comments for this post are closed.